IMG 20210430 WA0024

Babinsa Koramil 04 Bojonggede Kabupaten Bogor Kawal Pemakaman Warga Binaan Secara Prokes

Headline Jawa Barat Kombat TNI Polri & Abdi Negara Muhasabah

mascipoldotcom – Jum’at, 30 April 2021 (18 Ramadhan 1442 H)

Bojong Gede – Untuk mencegah meluasnya penularan Covid-19, di tengah-tengah masyarakat secara berkelanjutan yang dapat memicu dan memperburuk berbagai permasalahan sosial-ekonomi, kepatuhan dan kedisplinan dalam penerapan protokol kesehatan menjadi salah satu kunci penanganan Covid-19.

Dalam konteks tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2020. Ini merupakan langkah untuk memastikan protokol kesehatan diterapkan secara disiplin dan dipatuhi oleh semua pihak.

Dalam Inpres tersebut memuat empat poin yang diarahkan khusus kepada TNI dan Polri.

Pertama, Presiden Jokowi memerintahkan TNI dan Polri untuk turut mendukung dengan mengawasi penerapan protokol kesehatan.

Kedua, TNI dan Polri diminta bersinergi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam melakukan patroli.

Ketiga, TNI dan Polri diarahkan untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat dengan tujuan supaya masyarakat ikut berpartisipasi dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Keempat adalah efektivitas penegakkan hukum terkait pelanggaran protokol kesehatan.

Jadi tugas pokok TNI tentang operasi militer selain perang yakni ikut terlibat dalam penanggulangan bencana, baik itu bencana alam maupun bencana lainnya, termasuk wabah covid-19 ini.

Peran TNI wajib turut serta dalam mengupayakan prosedur pencegahan berkembangnya virus Covid-19.

Karena itulah, agar warga masyarakat wilayah binaannya tetap sehat wal afiat aman dan kondusif atas perintah Komandan Koramil 04 Bojonggede Kapten Chk Edy Sugiharto,SH dibawah pimpinan Sersan Mayor Adang Supriyatno bersama Sersan Dua Idwar, telah melaksanakan pengawalan jenazah salah satu warga binaannya, almarhum bapak Slamet bin Wiryo Taruno yang telah meninggal pada hari Jum’at 30 April 2021, pukul 07.00 WIB karena sakit tua dan dimakamkan di kampung bojong pada pukul 13.00 WIB dalam keadaan aman lancar dan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

“Kami tetap menghinbau kepada warga jangan bergerombol dan tetap jaga jarak sesuai protokol kesehatan agar keluarga almarhum bapak Slamet Riyadi yang datang dari berbagai penjuru Jabodetabek tetap dalam keadaan sehat wal afiat bersama warga sanak keluarga dan warga Bojong dalam memakamkan almarhum”. ungkap Sersan Dua Idwar saat ditemui mascipol.com, jum’at 30/4/2020, pukul 13.30 WIB

“Kami tekankan protokol kesehatan harus diterapkan dan dipatuhi,” sambung Serma Adang Supriyatno

Hadir dalam pelaksanaan pemakaman, selain Babinsa Koramil 04 Bojonggede gede Ketua RW 10 bapak Nuril dan perangkat desa bojong lainnya

Sementara itu bapak Reno anak sulung almarhum bapak Selamet Riyadi atas nama keluarga mengucapkan terimakasih Kepada Komandan Koramil Bojonggede Gede, beserta Babinsa dan seluruh perangkat Desa Bojong yang telah membantu sejak almarhum sakit tua hingga meninggal dunia dan sampai dengan selesai acara pemakamannya

“Saya atas nama keluarga mengucapkan terimakasih yang tak terhingga atas perhatian, do’a dan bantuan, dari sejak Ayah saya sakit hingga meninggal dunia dan selesai dimakamkan, kepada Komandan Koramil, Babinsa dan seluruh perangkat Desa serta seluruh handai taulan baik dari Bojong maupun dari keluarga besar Mbah Taruna Sentono”, tutup Reno.

———–

Renungan

YANG MATI HARI JUM’AT SELAMAT DARI SIKSA KUBUR?

Pertanyaan.

Dalam Rubrik Tazkiyatun Nufus edisi shafar 1433 H pada halaman 60 disebutkan bahwa diantara orang-orang yang terpelihara dari ujian dan siksa kubur (yang ke tiga) adalah seorang Muslim yang meninggal pada hari jumat. Pertanyaanya adalah apakah hadist ini berlaku secara mutlaq ?

Keterangan ini berlawanan dengan keterangan sebelumnya yang mengatakan bahwa diantara sebab siksa kubur adalah ahli riba. Bagaimana kalau yang mati pada hari jumat itu ahli riba atau pezina?

Mohon dijelaskan supaya lebih jelas dan gamblang. Terima kasih.

Jawaban.

Hadits yang dimaksudkan oleh penanya adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ، أَوْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Setiap Muslim yang meninggal pada hari Jum’at akan dijaga oleh Allah dari fitnah kubur. [HR. Ahmad dan Tirmidzi; Dinyatakan kuat oleh Syaikh al-Albâni dalam Ahkâmul Janâiz, hlm. 35]

Hadits tersebut menunjukkan keutamaan orang yang meninggal pada malam atau siang hari Jum’at dan termasuk salah satu tanda khusnul khatimah, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ahkâmul Janâiz, hlm. 49.

al-Mubarakfûri dalam Tuhfatul  Ahwâdzi Syarh Jâmi Tirmidzi, ketika menjelaskan hadits ini membawakan perkataan al-Hakim at-Tirmidzi, “Jika Allah Azza wa Jalla mewafatkan seseorang dan hari wafatnya itu bertepatan dengan hari Jum’at, maka itu merupakan tanda kebahagiannya dan tanda tempat kembalinya yang bagus. Karena tidaklah dicabut nyawa seseorang pada hari Jum’at kecuali orang yang telah ditulis kebahagiannyanya disisi-Nya. Oleh karena itu Allâh menjaganya dari fitnah kubur. [1]

Lalu bagaimana kalau yang meninggal pada hari itu adalah pelaku maksiat bahkan pelaku dosa besar misalnya ? Menurut aqidah Ahlus Sunnah jika seorang Muslim meninggal dunia sedangkan ia dalam berada dalam kemaksiatan, misalnya melakukan dosa-dosa besar, seperti zina, menuduh wanita Muslimah berzina, atau mencuri maka urusan mereka dibawah kehendak Allâh.  Jika Allah berkehendak maka Dia akan mengampuni dosa hamba tersebut dan jika tidak, maka Dia akan menyiksanya terlebih dahulu, lalu si hamba tadi akan dimasukan ke dalam surga, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa yang selain dosa syirik itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.[An-Nisâ/4:48]

Dan banyak sekali hadits yang shahih dan mutawatir yang menjelaskan tentang dikeluarkannya kaum Muslimin pelaku kemasiatan dari neraka. [Lihat Fatâwâ Lajnah Dâimah, 1/728]

Maka demikian pula halnya siksa kubur bagi pelaku dosa besar. Jika Allah Azza wa Jalla menghendaki, maka Allah Azza wa Jalla akan menyiksanya dan jika Allah Azza wa Jalla menghendaki untuk mengampuninya, maka Dia mengampuninya. Dan hanya Allâh Azza wa Jalla yang berhak memberikan siksa dan meringankan beban siksa seseorang dalam kubur atau bahkan meniadakan siksa kubur sama sekali terhadap hamba-hamba-Nya yang dikehendaki.

Wallâhu’alam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XV/1433H/2011M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]
_______

Footnote

[1] Tuhfatul  Ahwâdzi Syarh Jâmi Tirmidzi, 4/136, cet dar fikr