IMG 20210704 WA0036

Babinsa Gunung Seteleng Bersama Bhabinkamtibmas Laksanakan Tracer Kepada Warganya Yang Terkonfirmasi Positif

Headline Kalimantan Timur Muhasabah

mascipoldotcom, Ahad, 4 Juli 2021 (24 Zdulkaidah 1442 H)

Penajam – Babinsa Koramil 0904- 01/Penajam Kodim 0913/PPU Kelurahan Gunung Seteleng Serma Dahlan, Lurah, Bhabinkantibmas dan Staf Kelurahan Gunung Seteleng melaksanakan Tracer ke warga yang terkonfirmasi positif melaksanakan isolasi mandiri yang terdapt di beberapa RT Kelurahan Gunung Steteleng Kecamatan Penajam Kab. PPU. Minggu (04/7/2021).

Kegiatan Tracing contact terhadap warga terpapar Covid-19 oleh aparat gabungan Satgas penanggulangan Covid-19 Skala Mikro Kelurahan Kelurahan Gunung Steteleng Kecamatan Penajam, wajib dilakukan guna memutus mata rantai penularan virus corona.

Babinsa Kelurahan Gunung Seteleng Serma Dahlan mengatakan, “Hal ini merupakan implementasi tugas dan tanggung jawab Babinsa, Bhabinkamtibmas serta Pemerintah Kelurahan sebagai aparat di kewilayahan.

“Merupakan wujud sinergitas, Babinsa harus selalu berada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai seorang Tracer Tim penanganan Covid-19 harus bekerja cepat dikala ada pasien suspeck atau terkonfirmasi positif Covid-19, segera ditelusuri riwayat kontak erat dengan pasien sehingga dapat mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 di lingkungan masyarakat.” terang Serma Dahlan.

“Upaya memutus mata rantai penularan Covid-19 merupakan tugas dan tanggung jawab semua pihak, dan khusus bagi keluarga dan kontak erat dengan pasien supaya melakukan isolasi mandiri dengan selalu menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dengan meminum suplemen vitamin serta selalu mematuhi anjuran pemerintah tentang protokol kesehatan Covid-19.″ pungkas Babinsa.

Lanjut dikatakan oleh Serma Dahlan dirinya akan berperan maksimal dalam PPKM mikro di wilayah binaannya. “Babinsa dan Bhabinkamtibmas siap terjun dan membantu pemerintah desa para tracer-tracer yang harus tahu sampai di tingkat RT dengan pemberlakuannya PPKM berskala mikro”,Tegas Dahlan.

Kelurahan Gunung Seteleng terdapat beberapa warga dari masing-masing RT yang terkonfirmasi positif yaitu dari Rt . 13, RT 12, RT 02, RT 10, RT 04,RT 05 (selesai isolasi mandiri) selama 14 Hari dan RT.09 sendiri ada 4 orang yang masih dalam satu keluarga yang terkonfirmasi positif. Sumber Dim 0913/PPU. (Murdianto)

———–

Renungan

SALAF DAN SABAR TERHADAP MUSIBAH

Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Dari A’masy, dari Syahr bin Hausyab, dari Harits bin Umairah, ia berkata: ‘Aku sedang duduk di sisi Mu’adz Radhiyallahu ‘anhu, dan ia sedang sakaratul maut, dia pingsan lalu sadar, ia berkata: ‘Cekiklah diriku (maksudnya: lakukanlah apapun terhadapku, pent), demi kemulian -Mu, sesungguhnya aku mencintai-Mu.’[1]

Dari Mubarrid: Ada yang berkata kepada Hasan bin Ali: Sesungguhnya Abu Dzarr Radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Fakir lebih kusukai dari pada kaya dan sakit lebih kusukai dari pada sehat.’ Ia berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Dzarr, adapun saya mengatakan: ‘Barangsiapa yang bertawakkal terhadap pilihan terbaik yang dipilih Allah Shubhanahu wa Ta’ala untuknya niscaya ia tidak berangan-angan terhadap sesuatu. Inilah definisi pendirian terhadap ridha yang terjadi, seperti yang sudah ditaqdirkan.’[2]

Dari Wahb bin Munabbih rahimahullah: ‘Sesungguhnya Isa Alaihissalam berkata kepada Hawariyin: ‘Orang yang paling berkeluh kesah dari kalian terhadap musibah adalah yang paling cinta terhadap dunia.’[3]

Dari Sya’by, ia berkata: Syuraih rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya aku mendapat musibah maka aku memuji Allah Shubhanahu wa Ta’ala empat kali; aku memuji -Nya karena tidak lebih berat darinya, aku memuji karena -Dia memberiku kesabaran terhadapnya, memuji ketika Dia memberi taufik kepadaku untuk membaca istirja’ karena mengharapkan pahala, dan aku memuji ketika -Dia tidak menimpakannya pada agamaku.’[4]

Ghassan bin Mufadhdhal al-Ghalaby rahimahullah berkata: ‘Sebagian sahabatku menceritakan kepadaku, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Yunus bin Ubaid rahimahullah, lalu mengadukan kepadanya tentang kesulitan dalam kehidupannya serta duka citanya terhadap hal itu. Ia berkata: ‘Apakah engkau senang matamu ditukar dengan seratus ribu? Ia menjawab: Tidak. Ia (Yunus) berkata: ‘Dengan matamu? Ia menjawab: ‘Tidak.’ Ia (Yunus) berkata: Dengan lisanmu? Ia menjawab: Tidak. Ia (Yunus) berkatanya: ‘Dengan lisanmu? Ia menjawab: Tidak. Ia (Yunus) berkata: ‘Dengan akalmu? Ia menjawab: Tidak. Dan ia menyebutkan nikmat nikmat Allah Shubhanahu wa Ta’ala terhadapnya. Kemudian Yunus berkata kepadanya: ‘Saya melihat engkau memiliki ratusan ribu dan engkau masih mengeluhkan kebutuhan.’[5]

Dari Asy’ats bin Sa’id, ia berkata: Ibnu Aun berkata: ‘Seorang hamba tidak mendapatkan hakikat ridha sehingga ridhanya di saat fakir seperti ridhanya di saat kaya. Bagaimana engkau menerima ketentuan Allah Shubhanahu wa Ta’ala dalam perkaramu, kemudian engkau marah jika engkau melihat ketentuan -Nya berbeda dengan keinginanmu. Bisa jadi yang engkau inginkan dari hal itu jika dimudahkan- Nya merupakan bencana bagimu, dan engkau meridhai ketentuan -Nya apabila sesuai keinginanmu? Engkau tidak bersikap obyektif terhadap dirimu dan tidak mendapatkan pintu ridha.’[6]

Dari Ahmad bin Isham, ia berkata: ‘Zuhair bin Nu’aim rahimahullah berkata: ‘Sesungguhnya perkara ini tidak sempurna kecuali dengan dua perkara: sabar dan yakin, jika keyakinan tidak disertai kesabaran ia tidak sempurna, dan jika kesabaran tidak disertai keyakinan niscaya ia tidak sempurna. Dan Abu Darda` Radhiyallahu ‘anhu memberikan contoh bagi keduanya, ia berkata: ‘Perumpamaan yakin dan sabar adalah seperti dua orang petani yang menggali tanah, apabila salah seorang duduk niscaya duduklah yang lain.’[7]

Dari Utsman bin Haitsam rahimahullah, ia berkata: ‘Ada seorang laki laki di Bashrah dari Bani Sa’ad, ia salah seorang pemimpin pasukan Ubaidillah bin Ziyad, ia terjatuh dari loteng lalu kakinya patah. Lalu Abu Qilabah Radhiyallahu ‘anhu datang mengunjungi, ia berkata kepadanya: ‘Aku berharap ia menjadi kebaikan bagimu.’ Ia menjawabnya: ‘Wahai Abu Qilabah! kebaikan apakah saat kedua kakiku patah? Ia menjawab: ‘Yang ditutup Allah Shubhanahu wa Ta’ala terhadapmu jauh lebih banyak.’

Setelah tiga hari, datanglah surat dari Ibnu Ziyad agar keluar untuk membunuh Husain Radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata kepada utusan: Apa yang engkau ketahui tentang musibah Telah menimpaku.’ Maka tidak berlalu kecuali hanya tujuh hari hingga sampai berita terbunuhnya Husain Radhiyallahu ‘anhu. Laki-laki itu berkata: ‘Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Abu Qilabah Radhiyallahu ‘anhu, sungguh ia benar, sesungguhnya ia benar-benar menjadi kebaikan bagiku.’[8]

[Dilsain dari السلف والصبر على المصائب Penulis Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil, Bahauddin bin Fatih Aqil Penerjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]

______

Footnote

[1] Siyar A’lam Nubala` 1/460.
[2] Siyar A’lam Nubala’ 3/262.
[3] Siyar A’lam Nubala’ 1/551.
[4] Siyar A’lam Nubala’ 4/105.
[5] Siyar A’lam Nubala’ 6/292.
[6] Sifat Shafwah: 3/311.
[7] Sifar shafwah: 4/8
[8] Sifat Shafwah 3/238