IMG 20200725 WA0194

Alumni Akabri 95 Silver Reunion Bima Cakti Gelar Silaturahmi Dan Berbagi Tali Asih Kepada Penyapu Jalanan

Headline Muhasabah Sumatera Utara

IMG 20200725 WA0179mascipoldotcom, Minggu, 26 Juli 2020 (Ahad, 05 Dzulhijah 1441 H)

Medan – Alumni Akabri 1995 Sumatera Utara menggelar kegiatan Silaturahmi dan kegiatan Sosial dengan memberikan Tali Asih berupa pemberian sembako kepada penyapu jalanan yang dilaksanakan di Makala 1 jalan Asrama kelurahan Helvetia kecamatan Medan Helvetia. Sabtu (25/07/2020) siang

Yang mana dalam Tahun 2020 ini, Akabri 95 melaksanakan kegiatannya dengan motto “Dengan Semangat 25 Tahun Pengabdian Akabri 1995 Kita Mantapkan Soliditas dan Sinergitas TNI – POLRI Dalam Pengabdian Kepada Masyarakat Bangsa dan Negara”

IMG 20200725 WA0182Ketua Umum Akabri 1995 Silver Reunion Bima Cakti Sumatera Utara sekaligus Kainfolahta Dam 1/BB Letkol Inf Corri Sigalingging, menuturkan “Assallammuallaikum warahamtullahi wabarakatuh, Syaloom, Salam kasih untuk kita semua, Om suasti wastu namu budaya salam kebajikan,

Kami segenap Alumni Akabri 95 mengucapkan banyak terimakasih kepada masyarakat yang ada petugas kebersihan di kecamata Medan Helvetia, yang telah mau menerima kami untuk berbagi kasih dalam rangka memperingati Renion Perak 25 tahun Alumni Akabri 95, kiranya berbagi kasih dapat meringankan beban dari saudara kita dan hari ini kami telah membagikan 500 sembako di tiga lokasi dua lokasi Belawan dan satu lokasi Medan,

IMG 20200725 WA0185Kemarin kami juga sudah melakukan donor darah beserta TNI – POLRI berjumlah 350 kantong, kami juga telah melakukan kunjungan rekan kami yang sudah mendahului yaitu Almarhum Jecks Malau termasuk berbagi tali kasih keluarga, dan besok kami akan melakukan reoni secara virtual serentak seluruh dunia,

Karena kebetulan masa ini mulai pandemi covid sehingga kita melakukan viritual namun tidak mengurangi kebersamaan solidaritas dan pengabdian terbaik kami kepada Bangsa dan Negara, Terimakasih”.ucapnya

Seorang Ibu yang bernama Fitri yang mendapatkan bantuan sembako dari Akabri 95 mengatakan “Kami mengucapkan terimakasih banyak kepada Ibu – ibu dan Bapak – bapak Silver Renion Bima Cakti Alumni Akabri 95 yang telah memberikan sembako untuk kami Melati Bestari dan P3SU”.ucapnya

IMG 20200725 WA0190Terlihat juga Ibu – ibu dari Alumni Akabri 95 turut serta membagikan paket sembako dan masker kepada penyapu jalanan tersebut.(Ade SB Nasty)

————-

Renungan

Kaidah Ke-60 : Berpahala Dengan Niat
QAWA’ID FIQHIYAH
Kaidah Ke Enam Puluh

لاَ ثَوَابَ إِلاَّ بِالنِّيَّةِ

Tidak ada pahala kecuali dengan niat

IMG 20200725 WA0193MAKNA KAIDAH

Kaidah ini menjelaskan tentang urgensi niat bagi seorang hamba. Karena pahala di akhirat dan balasan yang baik dari amalan yang dilakukan seorang hamba tidak akan diperoleh kecuali diiringi niat baik dalam rangka bertaqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla . Sehingga hanya orang yang melaksanakan ibadah dengan niat ikhlas yang akan meraih pahala. Adapun yang beramal karena ingin memperoleh keuntungan dunia, maka ia tidak akan meraih pahala dari-Nya.

Kaidah ini menjelaskan perbedaan antara amalan yang dilakukan dengan niat yang baik dan amalan yang dilakukan dengan niat yang buruk. Meskipun secara lahiriah kedua amalan tersebut sama namun hakikatnya memiliki perbedaan yang jauh ditinjau dari sisi hasilnya.

DALIL YANG MENDASARINYA

Berikut ini beberapa dalil yang menunjukkan eksistensi dan kandungan kaidah ini. Di antaranya adalah hadits Mu’adz bin Jabal riwayat Abu Dawud, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اْلغَزْوُ غَزْوَانِ فَأَمَّا مَنِ ابْتَغَى وَجْهَ اللهِ وَ أَطَاعَ اْلإِمَامَ وَ أَنْفَقَ اْلكَرِيْمَةَ وَ يَاسَرَ الشَّرِيْكَ وَ اجْتَنَبَ اْلفَسَادَ فَإِنَّ نَوْمَهُ وَ نَبْهَهُ أَجْرٌ كُلُّهُ وَ أَمَّا مَنْ غَزَا فَخْرًا وَ رِيَاءًا وَ سُمْعَةً وَ عَصىَ اْلإِمَامَ وَ أَفْسَدَ فىِ اْلأَرْضِ فَإِنَّهُ لَمْ يَرْجِعْ بِاْلكَفَافِ

Berperang itu ada dua macam. Adapun orang yang berperang karena mencari ridha Allâh Subhanahu wa Ta’ala , menaati imam, menginfakkan harta berharganya, memberi kemudahan kepada kawannya, dan menjauhi kerusakan, maka seluruh tidur dan terjaganya terhitung pahala. Adapun orang yang berperang karena kebanggaan, riya’ dan sum’ah, menentang pemimpin, dan membuat kerusakan di muka bumi, maka ia tidak akan kembali dengan membawa balasan.”[1]

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak ada pahala kecuali disertai niat yang baik.

Demikian pula disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dalam riwayat al-Bukhâri, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِيمَانًا بِاللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ وَرَوْثَهُ وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa memelihara seekor kuda untuk fii sabilillah karena keimanan kepada Allâh dan membenarkan janji-Nya, maka sesungguhnya makan dan minumnya kuda itu, kotoran dan kencingnya, akan menjadi timbangan kebaikan baginya pada hari kiamat.[2]

Hadits di atas termasuk dalil paling jelas yang menunjukkan eksistensi kaidah ini.

CONTOH PENERAPAN KAIDAH

Kaidah yang mulia ini mempunyai banyak contoh implementatif, baik berkaitan dengan aspek ibadah maupun mu’amalah. Berikut ini beberapa di antaran contohnya :

Telah dimaklumi bahwa menaati penguasa dalam perkara ma’ruf termasuk kewajiban syar’i, namun seseorang yang menaati penguasa sekedar untuk mendapatkan keuntungan dunia, meraih jabatan atau mempertahankannya, tanpa terbesit dalam hatinya niat beribadah dan taqarrub kepada Allâh Azza wa Jalla maka tidak ada pahala baginya dalam ketaatannya itu. Bahkan bisa jadi perbuatannya itu akan menjadi musibah baginya di dunia dan akhirat.

Adapun seseorang yang taat kepada penguasa karena Allâh yang telah memerintahkan, sehingga ia melakukannya karena melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla , juga perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka orang seperti inilah yang akan mendapatkan pahala dari-Nya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah z dalam riwayat al-Bukhâri, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ رَجُلٌ كَانَ لَهُ فَضْلُ مَاءٍ بِالطََّرِيْقِ ، فَمَنَعَهُ مِنِ ابْنِ السَّبِيلِ، وَرَجُلٌ بَايَعَ إِمَامًا لاَ يُبَايِعُهُ إِلاَّ لِدُنْيَا، فَإِنْ أَعْطَاهُ مِنْهَا رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطِهِ مِنْهَا سَخِطَ، وَرَجُلٌ أَقَامَ سِلْعَتَهُ بَعْدَ الْعَصْرِ، فَقَالَ وَاللهِ الََّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ لَقَدْ أَعْطَيْتُ بِهَا كَذَا وَكَذَا، فَصَدَّقَهُ رَجُلٌ، ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (( إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلاً )).

Tiga golongan manusia yang kelak pada hari kiamat, Allâh tidak akan sudi memandang, tidak menyucikan mereka, dan disediakan bagi mereka siksaan yang pedih, yaitu Orang yang memiliki kelebihan air di perjalanan, akan tetapi ia enggan untuk memberikannya kepada ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan); Orang yang berbai’at kepada seorang pemimpin akan tetapi ia tidaklah berbai’at kecuali karena ingin mendapatkan keuntungan dunia, yaitu bila sang pemimpin memberinya harta, maka ia ridha dan bila sang pemimpin tidak memberinya harta, maka ia benci;

Orang yang menawarkan dagangannya seusai shalat Ashar, dan pada penawarannya ia berkata, “Sungguh, demi Allâh yang tiada sesembahan yang benar selain-Nya, aku telah mendapatkan penawaran demikian dan demikian. Sehingga ada konsumen yang mempercayainya. Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allâh dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit.”[3]

Menulis kitab yang bermanfaat sesungguhnya termasuk kategori amal shalih, namun seorang penulis tidak akan memperoleh pahala kecuali jika niatnya niat yang baik. Apabila niatnya saat menulis sekedar untuk berbangga-bangga, sum’ah, atau untuk mencari perhatian manusia, atau mencari keuntungan dunia semata, maka ia tidak akan mendapatkan pahala sedikitpun.

Tidak diragukan bahwa mengajak kepada perkara ma’ruf dan mencegah dari perkara munkar termasuk ibadah. Akan tetapi pahala amalan tersebut tergantung dengan ada tidaknya niat yang baik. Seseorang yang mengerjakannya dengan maksud untuk memperoleh pujian manusia dan sanjungan semata, atau sekedar karena tuntutan pekerjaan yang harus ia kerjakan, maka tidak ada pahala baginya karena tidak ada pahala kecuali dengan niat yang shalih.

Sesungguhnya niat dalam rangka beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla semata merupakan salah satu di antara syarat sah sholat. Oleh karena itu, jika seorang hamba melaksanakan shalat dengan niatan riya’, sum’ah, atau sekedar untuk mendapatkan keuntungan dunia maka shalatnya tidaklah diterima, sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi, Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيَ غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan-Ku dengan sesuatu selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya berserta kesyirikan yang diperbuatnya.[4]

Melunasi hutang dan penunaian hak-hak sesama hamba yang lainnya, apabila diiringi niat yang baik maka akan mendatangkan pahala bagi pelakunya. Namun jika dilakukan tanpa niatan tersebut, atau melakukannya karena terpaksa, maka ia tidak berhak mendapatkan pahala. Ini tidak berarti bahwa pembayaran hutang tersebut tidak sah, karena penunaian hak-hak semacam itu tidak dipersyaratkan niat untuk keabsahannya, namun pembahasan di sini berkaitan dengan berpahala atau tidak. Jika ia meniatkan kebaikan dalam rangka melaksanakan perintah Allâh Azza wa Jalla maka ia akan mendapatkan pahala dan jika tidak maka tidak ada pahala baginya.

Setiap amalan yang disertai riya’ sedangkan pelakunya tidak berusaha menolaknya, bahkan ia membiarkan dan ridha dengannya maka itu adalah amalan yang bathil dan tidak ada pahala di dalamnya. Sebagaimana seseorang yang melakukan shalat sekedar supaya terhindar dari hukuman penguasa, atau seseorang yang membayar zakat supaya tidak terkena hukuman dari pemerintah maka tidaklah ada pahala bagi pelakunya, karena amalan tersebut kosong dari niat peribadahan dan taqarrub kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala.[5]

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1] HR. Abu Dawud no. 2515. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dalam Silsilah al-Ahadits as-Shahihah, no. 1990.

[2] HR. al-Bukhari no. 2853, an-Nasa’i no. 3582, Ahmad 2/374.

[3] HR. al-Bukhari no. 2358 .

[4] HR. Muslim no. 2985.

[5] Diangkat dari Risalah fi Tahqiq Qawa’id an-Niyyah, Syaikh Walid bin Rasyid as-Sa’idan, Kaidah Ketiga.