Kapolres Brebes Ucapkan Terimakasih Atas Terselenggaranya Sinergitas Bersama TNI Dinas Kesehatan Serta Komascipol dan Stake Holder Yang Telah Kawal Mudik Lebaran di Posko Pengamanan Songgom

Aksi Nyata Headline Jawa Tengah Muhasabah

mascipoldotcom – Rabu, 11 Mei 2022 (12 Syawal 1443 H)

Brebes – Kepolisian Negara Republik Indonesia selain menyiapkan rekayasa lalu lintas juga menyiapkan 2.702 posko yang terdiri atas pos pengamanan, pos pelayanan dan pos terpadu guna menunjuang keamanan dan kelancaran pelaksanaan Mudik Lebaran 2022.

“Polri telah menyiapkan 2.702 posko yang terdiri atas 1.710 pos pengamanan, 730 pos pelayanan, dan 258 pos terpadu,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan, di Jakarta, Selasa, 19/4/2022. 23:04 WIB

Karopenmas Divisi Humas Polri menjelaskan, posko-posko tersebut digunakan sebagai pusat informasi dan pengamanan, tempat istirahat sementara bagi para pengemudi yang kelelahan, rekayasa arus lalu lintas (one way, ganjil-genap dan contra flow), serta pusat komando dan pengendali operasi di lapangan secara terintegrasi.

“Posko terpadu juga dimanfaatkan sebagai gerai vaksin bagi pemudik yang belum divaksin dosis primer maupun booster,” tambah Karopenmas Divisi Humas Polri.

Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan menyebutkan, Polri menggelar Operasi Ketupat 2022 yang mengedepankan kelancaran perlaksanaan arus mudik dan balik Lebaran 2022 melalui rekayasa lalu lintas, khususnya di jalan tol dengan sistem satu arah dan ganjil genap.

Polri telah menerbitkan jadwal diberlakukan-nya sistem satu arah dan ganjil genap di jalan tol pada puncak arus mudik dari tanggal 28-1 Mei, dan puncak arus balik dari tanggal 6 sampai 9 Mei 2022. Sistem satu arah dan ganjil genap ini diberlakukan mulai dari KM 47 Tol Jakarta-Cikampek sampai KM 414 Gerbang Tol Kalikangkung.

Operasi Ketupat 2022 melibatkan 144.392 personel gabungan TNI-Polri, pemerintah daerah, serta relawan, yang terdiri atas 876 personel Mabes Polri, 87.004 personel Polda jajaran, dan 56.512 personel dari instansi terkait.

Kegiatan operasi ini berlangsung selama 12 hari dimulai dari tanggal 28 April sampai dengan 9 Mei 2022, yang didahului dengan gelar pasukan pada tanggal 27 April.

Pengamanan yang dilakukan jajaran Polri meliputi 101.454 objek pengamanan, terdiri atas 90.796 masjid, 4.324 pusat perbelanjaan, 4.326 objek wisata, 833 terminal, 666 pelabuhan, 299 stasiun kereta api dan 210 bandar.

“Diharapkan masyarakat dalam pelaksanaan mudik tahun 2022 tetap mematuhi protokol kesehatan, melaksanakan vaksin booster dan mematuhi peraturan berlalu lintas,” tutup Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan.

Dari 2.702 posko untuk mengawal tradisi tahunan mudik lebaran idhul fitri, yang disiapkan Polri diantaranya Posko pengamanan lebaran idhul fitri 2022 di jalan lintas Pejagan-Prupuk atau sebaliknya, tepatnya di Blok Sinyuran Rt. 001/03 Kelurahan Songgom Lor, Kecamatan Songgom diwilayah hukum Polres Brebes Polda Jawa Tengah.

Dan Pos pengmanan ini didukung penuh oleh masyarakat Blok Sinyuran Songgom Lor, diantaranya didukung dan sinergitas bersama Komascipol, Apotik Bagus Pratama, Bidan Ma’rifah, SM dan dr. Evy Awalina Shofia, dengan menyediakan lahan untuk berdirinya Pos Pengamanan dan Pos Kesehatan.

“Pos pengamanan dan Pos Kesehatan ini telah kami siagakan di jalur mudik alternatif Pejagan ke arah Prupuk via Songgom,” ungkap Kapolres Brebes AKBP Faisal Febrianto, S.I.K,. M.Si, di dampingi Kapolsek Songgom Iptu Sarjono dan Kepala Kesehatan Kab Brebes Ibu Ineke Tri Sulistyowaty, SKM,. M.Kes, yang diwakilkan kepada Sekretaris Dinas Kesehatan (Sekdinkes) Kabupaten Brebes Edi Puji Harto dan Kepala Puskesmas Jatirokeh Ibu Hj. Ammah Mustofyah, STr. Keb, S.IKom, M. Kes,

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Ibu Ineke Tri Sulistyowaty, SKM,. M.Kes, yang diwakilkan kepada Sekretaris Dinas Kesehatan (Sekdinkes) Kabupaten Brebes Edi Puji Harto beserta tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes saat menunjungi Pos Kesehatan Mudik Pintu Air Songgom, Brebes, dalam rangka monitoring Kesiapsiagaan Arus Mudik tahun 2022, pada hari Kamis, 28/4/2022, mengatakan

“Kami berharap kepada petugas kesehatan yang nanti nya akan bergantian jaga, untuk sebaik-baiknya mempersiapkan diri, menjaga diri dengan protokol kesehatan sebaik mungkin, Posko kesehatan juga dilengkapi hand sanitizer, masker, peralatan medis untuk pemeriksaan umum beserta obat-obatan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat mudik, serta disediakan vaksinasi covid-19 bagi masyarakat yang belum melakukan vaksinasi dosis 2 dan booster”, ungkap Sekdinkes Kabupaten Brebes Edi Puji Harto.

Masih menurut Sekdinkes Kabupaten Brebes Edi Puji Harto, sesuai arahan dan penekanan dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes Ibu Ineke Tri Sulistyowaty, SKM,. M.Kes, Kepada para pemudik dan masyarakat pada umumnya, himbauan dari Kementerian Kesehatan agar diperbolehkan melakukan perjalanan mudik dengan syarat sebagai berikut :

“Pelaku perjalanan yang melakukan vaksin dosis 1, maka wajib menyertakan hasil negative test PCR dan pelaku perjalanan yang telah melakukan vaksinasi dosis lengkap 1 dan 2, maka wajib menyertakan hasil negative antigen, serta pelaku perjalanan yang telah melakukan vaksinasi dosis lengkap (2 dosis) dan booster maka tidak wajib menyertakan hasil negative antigen”, beber Sekdinkes Kabupaten Brebes Edi Puji Harto.

Untuk pos pelayanan dilengkapi dengan gerai vaksinasi, dan pemeriksaan kesehatan bagi para pemudik yang melintasi Songgom

“Di pos pelayanan ini kami juga menyiapkan seperti rest area mini, untuk pengendara sepeda motor yang mengalami kelelahan bisa beristirahat di lokasi yang telah kita siapkan, dan Kita juga menyiapkan gerai vaksin,” tambah Kapolres Brebes AKBP Faisal Febrianto. S.I.K,. M.Si,

Masih menerut Kapolres Brebes “Seperti kita ketahui bersama, perintah dari Bapak Presiden untuk mudik 2022 ini wajib sudah vaksin booster, maka kita juga sudah melakukan uji sampling, bagi para pemudik yang belum melaksanakan vaksin juga sudah kita lakukan vaksin beberapa pemudik di gerai pos pelayanan Pintu Air Songgom,” papar Kapolres Brebes AKBP Faisal Febrianto. S.I.K,. M.Si,

Dengan berakhirnya siaga pengamanan mudik lebaran idhul fitri 2022, Kapolres Brebes AKBP Faisal Febrianto, S.I.K,. M.Si, mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Komascipol, Linsek, pengusaha dan stake holder serta masyarakat yang terlibat langsung dan tidak langsung atas tercapainya mudik yang aman, nyaman serta lancar dengan korban lalulintas yang sangat minim.

“Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung hingga terlaksananya pengamanan mudik lebaran 2022, hingga tercapainya perjalanan mudik yang aman, nyaman serta lancar sehingga minimnya korban kecelakaan lalulintas”, tutup Kapolres Brebes AKBP Faisal Febrianto. S.I.K,. M.Si, (Bhabinkamtibmas Kelurahan Songgom Bripka Satrio)

________________

Renungan

KEBERKAHAN TAAT KEPADA PEMIMPIN

Oleh Ustadz Anas Burhanuddin MA

Ajaran Islam dalam semua aspeknya memiliki hikmah dan tujuan tertentu. Hikmah dan tujuan ini diistilahkan oleh para ulama dengan Maqâshid Syari’ah, yaitu berbagai maslahat yang bisa diraih seorang hamba, baik di dunia maupun di akhirat.

Tidaklah ada satu ajaran dalam syariat Islam, melainkan dalam ajaran tersebut ada maslahat dan kebaikan untuk umat Islam, bahkan umat manusia. Menjalankan ajaran-ajaran ini akan membawa limpahan berkah dari penjuru langit dan bumi, sebagaimana janji Allâh Azza wa Jalla dalam firmanNya,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sebagai akibat perbuatan mereka.” [Al-A’raf/7:96]

Begitu juga dengan syariat taat kepada pemimpin Muslim , yang zhalim sekalipun. Apalagi perkara ini merupakan salah satu pokok ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah dan disepakati oleh para ulama. Jika umat Islam mau mengamalkan wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, niscaya mereka akan terlimpah kebaikan dan berkah.

Di antara berkah ketaatan kepada pemimpin adalah sebagai berikut:

1. Pahala Besar Di Akhirat

Karena Allâh Azza wa Jalla mewajibkan ketaatan kepada pemimpin, perkara ini menjadi ibadah utama. Menjalankan kewajiban adalah ibadah yang paling Allâh Azza wa Jalla cintai. Saat rakyat diuji dengan pemimpin yang zhalim dan mereka bisa sabar, mereka akan mendulang pahala besar, karena telah menjalankan kewajiban. Demikian pula ketika seorang Muslim berhenti di depan lampu merah sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah. Juga jika ia meyakini bahwa di akhir zaman akan muncul pemimpin-pemimpin zhalim yang wajib dia taati, karena itu adalah kabar yang disampaikan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sekedar mengimani berita tersebut sudah mendulang pahala di sisi Allâh Azza wa Jalla .

2. Keamanan Dan Stabilitas

Keamanan adalah salah satu nikmat terbesar yang harus dijaga bersama. Di antara kiatnya adalah iman dan taqwa dalam semua ajaran Islam, termasuk taat kepada pemimpin.

Agar aman dan stabil, sebuah negara memerlukan pemimpin yang kuat dan disegani. Dan di antara perusak keamanan yang harus diwaspadai adalah kudeta dan pemberontakan kepada pemimpin Muslim yang sah. Konflik Revolusi Arab yang terjadi dari akhir tahun 2010 dan masih berlangsung hingga hari ini adalah contoh paling mutakhir untuk tercabutnya keamanan karena tidak menepati aturan Islam dalam bab ketaatan kepada pemimpin yang zhalim. Kita bisa melihat bagaimana negara-negara yang dahulu aman sentosa menjadi luluh lantak. Ratusan ribu korban jiwa jatuh. Di Libya saja, lebih dari 50.000 nyawa melayang. Hingga Februari 2016, jumlah korban jiwa di konflik Suriah sudah mencapai 470.000.[1]

Korban luka, kerugian materi dan non materi juga sangat banyak bahkan tidak bisa dihitung lagi. Saat Libya masih bergolak, kerugian material atas rusaknya fasilitas dan infrastruktur umum diperkirakan mencapai lebih dari 240 milyar dollar.[2] Masih ada beberapa negara yang membara hingga hari ini. Sedangkan negara-negara yang konfliknya sudah reda belum lagi bisa mengembalikan permata keamanan dan stabilitas yang dahulu pernah dimiliki. Padahal banyak dari pemimpin negara-negara ini masih Muslim -meski zhalim-. Dan jika ada yang sudah dihukumi kafir oleh para ulama, umat Islam yang dipimpinnya tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menggulingkannya tanpa menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Di antara sisi indah Islam adalah Islam tidak hanya memerintahkan untuk taat kepada pemimpin yang adil, tapi juga kepada pemimpin yang zhalim. Kalau seandainya Islam hanya mewajibkan taat kepada pemimpin yang adil saja, niscaya lembaran sejarah umat Islam akan kelam dan berlumuran darah, karena pemimpin-pemimpin yang zhalim ternyata sudah mulai muncul di era generasi awal umat Islam.

3. Terwujudnya Maslahat Besar Rakyat Dan Terhindarnya Kerusakan Yang Lebih Besar

Kewajiban taat kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim bukanlah karena Islam pro kezhaliman. Tapi justru karena Islam melihat ke depan dan mementingkan rakyat, karena jika wibawa penguasa jatuh, stabilitas menjadi tercabik. Jika sudah begitu, rakyat kecil-lah yang akan menjadi korban pertama dan terbesarnya. Apalagi jika sampai terjadi kudeta berdarah.

Dalam Islam, sebagian mafsadah (kerusakan) bisa saja dibiarkan untuk menghindarkan mafsadah yang lebih besar. Dalam permasalahan ini, adanya pemimpin yang zhalim adalah mafsadah. Tapi memberontak mereka akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar. Maka Islam tetap mewajibkan umatnya untuk taat kepada pemimpin zhalim tersebut. Toh, jika mereka selamat dari perhitungan dunia, mereka tidak akan selamat dari perhitungan akhirat.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ ۚ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira, bahwa Allâh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zhalim. Sesungguhnya Allâh memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. [Ibrahim/14 :42]

Di sisi lain, Islam juga mengajarkan rakyat untuk menasehati mereka dan tidak mentaati mereka dalam perintah yang sifatnya maksiat.

Dalam Revolusi Arab, korban yang luar biasa besar sudah jatuh. Kerugiannya tidak bisa dihitung lagi. Keamanan berganti menjadi rasa takut dan kekacauan. Sementara kebaikan yang diharapkan belum terwujud. Korupsi tetap jalan, yang berubah hanya pelakunya. Sementara kezhaliman masih merajalela dan ekonomi justru semakin terpuruk. Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

وَلَعَلَّهُ لا يَكَادُ يُعْرَفُ طَائِفَةٌ خَرَجَتْ عَلَى ذِي سُلْطَانٍ، إِلَّا وَكَانَ فِي خُرُوجِهَا مِنَ الْفَسَادِ مَا هُوَ أَعْظَمُ مِنَ الْفَسَادِ الَّذِي أَزَالَتْهُ.

“Barangkali hampir tidak diketahui ada sekelompok orang yang melakukan kudeta terhadap pemimpin, melainkan dalam kudeta tersebut terdapat kerusakan yang lebih besar daripada kerusakan yang dihilangkan.”[3]

Keberhasilan kudeta membuat rakyat tidak lagi hormat kepada penguasa. Jika sudah demikian, tinggal kekacauan yang ditunggu.

4. Masuk Dalam Barisan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Menjadi bagian dari Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah impian sekaligus kewajiban bagi setiap Muslim, karena merekalah kelompok yang selamat (al-Firqah an-Najiyah). Untuk mencapainya, setiap Muslim wajib meniti jalan dan mengikuti ajaran mereka.

Dan di antara pokok ajaran ahlussunnah adalah taat dan patuh kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim, sebagaimana ditegaskan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang banyak. Tidak diragukan lagi bahwa itu adalah wasiat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga para ulama dari masa ke masa bersepakat (ijma’) dan tidak berselisih mengenai hal ini.

Menepati pokok ajaran ini dan pokok ajaran yang lain akan membuat seseorang digolongkan sebagai sunni. Sebaliknya menyelisihi pokok ini akan membuatnya digolongkan kepada ahlul bid’ah, karena penyelisihan tersebut adalah penyelisihan dalam perkara pokok (Ushul Ahlissunnah). Fatal! Para ulama tidak segan mengeluarkan pemilik penyimpangan seperti ini dari lingkaran ahlussunnah.

Al-Hasan bin Shalih bin Hay (w. 169 H) adalah seorang ulama dan ahli ibadah pada zamannya. Ada banyak riwayat tentang keshalihan dan kedalaman ilmunya. Namun para ulama menggolongkannya sebagai ahlul bid’ah karena berpendapat bolehnya memberontak kepada penguasa yang zhalim, meski tidak pernah ikut kudeta.

Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan, “Beliau termasuk imam dalam Islam andai saja tidak jatuh dalam satu bid’ah.” [4] Hal ini selaras dengan sikap keras para imam yang sezaman dengan al-Hasan. Mereka menolak pengakuannya sebagai sunni dan menolak hadits-hadits yang diriwayatkannya.

Ya, kedudukan tingginya dalam ilmu dan keshalihan tidak lagi menyelamatkannya dalam hal ini. Hanya karena satu penyimpangan, namun dalam pokok ajaran ahlussunnah.

Penutup

Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa tetap menjaga ketaatan kepada pemimpin Muslim meskipun zhalim adalah ajaran Islam bahkan merupakan prinsip ajaran ahlussunnah. Dengan demikian, tentu ajaran ini mengandung maslahat besar dan akan memberikan keberkahan bagi umat Islam yang meyakini dan mengamalkannya.

Namun ironisnya, banyak umat Islam yang karena dorongan semangat semata atau tidak memahami hukum Islam seputar bab ini atau mengetahuinya tapi tidak mengamalkannya, sehingga banyak dari negeri mereka yang dilanda konflik berkepanjangan dan jauh dari berkah. Hal itu tidak aneh, karena memang demikianlah janji Allâh Azza wa Jalla bagi umat yang menyelisihi mendustakan ajaran agama mereka.

Semoga Allâh Azza wa Jalla membimbing umat Islam untuk kembali mempelajari agama mereka dan mengamalkannya dalam semua aspek kehidupan. Amin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XXI/1438H/2017M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Versi al-Markaz as-Suri lil Buhuts as-Siyasiyyah.
[2] Lihat: http://ar.wikipedia.org/wiki/ الثورات العربية
[3] Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah 3/391.
[4] Siyar A’lam an-Nubala` 7/361.