Cegah Kepadatan Arus Mudik Polrestro Bekasi Kota Siapkan Skema One Way

Cegah Kepadatan Arus Mudik, Polrestro Bekasi Kota Siapkan Skema One Way

Headline DKI Jakarta Muhasabah

mascipoldotcom – Rabu, 27 April 2022 (25 Ramadhan 1443 H)

Jakarta – Polres Metro Bekasi Kota berencana melakukan rekayasa lalu lintas dengan sistem one way di Jalan M. Hasibuan, Kota Bekasi. Hal ini akan diterapkan apabila terjadi kepadatan kendaraan dari Jakarta di Jalan KH Noer Ali, Kalimalang.

Kanit Turjawali Polres Metro Bekasi Kota, AKP Ganda Siburian mengatakan skema tersebut disiapkan untuk mencegah penumpukan kendaraan di Kota Bekasi, yang merupakan jalur arteri untuk mudik lebaran.

“Betul (one way), nanti kita lihat eskalasi lalu lintas dari Jalan KH Noer Ali ya. Kalau memang dari Kalimalang cukup meriah, nanti kita bikin one way arah ke Jalan Hasibuan,” ungkap AKP Ganda saat dikonfirmasi, Senin (25/4/2022).

Saat ini, para pengedara dari arah Jakarta yang ingin ke arah timur harus belok ke kanan atau kiri di Jalan Ahmad Yani. Dengan kata lain, mereka tidak bisa melintas ke Jalan M Hasibuan karena telah diberlakukan satu arah ke arah berlawanan.

Oleh sebabnya, rekayasa lalu lintas yang dilakukan polisi nantinya akan membuat pengendara dari arah Jalan Kalimalang langsung lurus menuju jalan M Hasibuan.

“Itu situasional, kalau sekarang dalam pantauan saya di sana, jalur Kalimalang masih landai,” ucap AKP Ganda.

Pada kesempatan yang sama, AKP Ganda memprediksi arus mudik baru akan terjadi pada 27-28 April 2022 mendatang. Dia pun mengimbau agar para pemudik yang hendak ke kampung halamannya untuk memastikan kondisi fisik dalam keadaan sehat.

“Apabila mengantuk, ada rest area atau tempat-tempat yang disediakan seperti Pospam itu untuk tempat istirahat. Silakan istirahat, jangan dipaksakan untuk keselamatan bersama, dan anda bisa merayakan lebaran di rumah,” tukas AKP ganda. (Muhairo)

____

Renungan

Hukum I’tikaf dan Dalil-dalilnya

MUQADDIMAH

Pengertian I’tikaf

I’tikaf dari segi bahasa bermakna menetap pada sesuatu atau menghabiskan waktu untuk sesuatu atau dengan bahasa sekarang disebut at-tafarrugh lahu (mencurahkan waktu untuknya).

Tashrifnya dari يَعْكِفُ – عَكَفَ (huruf kaf boleh didhammahkan dan boleh juga dikasrahkan), مُعْتَكِفٌ – اِعْتِكَافٌ – عَاكِفٌ

I’tikaf menurut syari’at bermakna: menetapnya seorang muslim yang berakal dan baligh di dalam satu masjid dengan niat i’tikaf untuk waktu tertentu, sebagaimana akan datang rinciannya, insya Allah.

Dalam beberapa ayat al-Qur-an al-Karim tercantum kata i’tikaf yang menunjukkan satu arti, yaitu menetap pada sesuatu atau menghabiskan waktu untuknya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاَتَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰٓى اَصْنَامٍ لَّهُمْ

“…Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka…” [Al-A’raaf/7: 138]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Musa Alaihissallam kepada Samiri:

وَانْظُرْ اِلٰٓى اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا

“…Lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya… [Thaahaa/20: 97]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Ibrahim Alaihissallam:

اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُوْنَ

“(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?’” [Al-Anbiyaa’/21: 52]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ucapan Bani Israil:

قَالُوْا لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى

“Mereka menjawab, ‘Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.’” [Thaahaa/20: 91]

Adapun yang tercantum dalam al-Qur-an al-Karim dengan lafazh i’tikaf dengan makna syar’i yakni menetap di dalam masjid, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim dan Ismail Alaihissallam:

اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“…Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud… [Al-Baqarah/2: 125]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kaum mukminin tentang adab dan syarat-syarat i’tikaf:

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ

“…Janganlah kamu campuri mereka itu (isteri-isterimu), sedang kamu beri’tikaf dalam masjid…” [Al-Baqarah/2: 187]

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Masjidil Haram:

وَالْمَسْجِدِالْحَرَامِ الَّذِيْ جَعَلْنٰهُ لِلنَّاسِ سَوَاۤءً ۨالْعَاكِفُ فِيْهِ وَالْبَادِ

“…Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir…” [Al-Hajj/22: 25]

Dikatakan bahwa maksud dari Masjidil Haram adalah kota Makkah dan maksud dari ‘Aakif adalah orang-orang yang bertempat tinggal di kota Makkah. Adapun maksud al-baad yaitu orang-orang yang datang dari negeri-negeri lain, kemudian kembali ke negerinya, wallaahu ‘alam.

Bab I

HUKUM I’TIKAF DAN DALIL-DALILNYA

I’tikaf adalah Sunnah yang disyari’atkan berdasarkan beberapa jenis dalil:

Berdasarkan al-Qur-an al-Karim, sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang akan disebutkan dalam beberapa hadits, insya Allah.

Perbuatan isteri-isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perbuatan sebagian dari Sahabat beliau Radhiyallahu anhum.

Umat yang terdahulu hingga sekarang tetap mengikuti petunjuk beliau tersebut.

Pembahasan Pertama

Pembagian I’tikaf dan Keutamaannya

I. Pembagian I’tikaf

Sebagian ulama membagi hukum i’tikaf menjadi tiga bagian:

Wajib, seperti i’tikaf karena bernadzar.

Sunnah muakkad, yakni i’tikaf pada bulan Ramadhan khususnya pada sepuluh hari ter-akhir.

Sunnah yang boleh dilakukan, yakni i’tikaf yang dilakukan pada hari-hari lain.

II. Keutamaan I’tikaf

Mengenai keutamaan i’tikaf tidak terdapat hadits yang dapat naik kepada derajat shahih. Hanya saja hukumnya jelas dan sudah disepakati oleh para ulama bahwa hukumnya adalah Sunnah yang selalu dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. Hanya saja tercantum dalam hadits bahwa beliau pernah i’tikaf pada bulan Syawwal sebagaimana yang akan disebutkan.

Adapun hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang fadhilah i’tikaf memiliki sanad yang dha’if dan yang termasyhur adalah dua hadits sebagai berikut:

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْمُعْتَكِفُ يَعْكِفُ الذُّنُوبَ وَيُجْرَى لَـهُ مِـنَ الْحَسَنَاتِ كَعَامِلِ الْحَسَنَاتِ كُلِّهَا.

“Orang yang beri’tikaf terhenti dari perbuatan dosa dan pahalanya terus mengalir seperti pahala orang yang mengamalkan seluruh kebaikan.”[1]

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari al-Husain bin ‘Ali Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنِ اعْتَكَفَ عَشَرًا فِي رَمَضَانَ كَانَ كَحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ.

“Barangsiapa beri’tikaf pada sepuluh hari bulan Ramadhan berarti sama seperti melaksanakan haji dan ‘umrah sebanyak dua kali.”[2]

Tidak boleh berhujjah dengan kedua hadits ini karena keduanya bukan hadits shahih.

[Disalin dari kitab Ad-Du’aa’ wal I’tikaaf, Penulis Syaikh Samir bin Jamil bin Ahmad ar-Radhi, Judul dalam bahasa Indonesia I’tikaf Menurut Sunnah yang Shahih, Penerjemah Abu Ihsan al-Atsari, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
______
Footnote
[1] HR. Ibnu Majah (I/567, no. 1781). Syaikh Muhammad ‘Ab-dul Baqi berkata, “Sanadnya dha’if.”
[2] Al-Muttajir Raabih, hal. 271, hadits no. 67.