Peringatan Nuzulul Quran 1443 H, Ini Kata Kabareskrim Polri

DKI Jakarta Headline Muhasabah

mascipoldotcom – Selasa, 19 April 2022 (17 Ramadhan 1443 H)

Jakarta – Malam Nuzul Quran 17 Ramadan 1443 H disambut oleh seantero umat Islam dunia, karena pada malam ini pertama kali Alquran diturunkan.

Peristiwa ini tentu menjadi peristiwa penting dan dapat menjadi semangat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan memantapkan keislaman kita.

Hal ini disampaikan oleh Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto kepada awak media sembari mengirimkan ucapan selamat memperingati Nuzul Quran 1443 H Senin (18/04).

“Alquran itu petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang bertakwa dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman”, ujar Komjen Agus.

Lebih lanjut Komjen Agus mengatakan dalam Alquran mengandung hukum-hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah SWT secara rohaniah dan amaliah serta hubungan antara manusia dengan manusia.

“Seingat saya ada hukum i’tiqadiah, hukum amaliah dan hukum khuluqiah”, tambah Komjen Agus.

Komjen Agus juga mengutip satu surat dalam Alquran yaitu Surah An-Nisa ayat 59.

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”, tulis Komjen Agus.

Jika kita berbeda pendapat baik dalam agama maupun dalam hal lain kita diperintah kembali kepada Alquran dan Sunnah.

“Kita juga diperintah untuk taat kepada Allah SWT, Rasul dan Pemimpin”, papar Komjen Agus.

Masih menurut Komjen Agus, bahwa perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT.

Ketika kita banyak berbedanya, baik beda pendapat, pandangan, pola pikir dan pola tindak tidak seharusnya terpecah belah dan malah saling menghujat.

Kan kalau kita berbeda pendapat bukan dalam agama, jika kembali ke Alquran, kan jelas di surah Al-Hujurat ayat 13.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”, Jelas Komjen Agus.

Sangat jelas, kita ini berbeda-beda, bersuku-suku, berbangsa-bangsa, tentu pola pikir juga berbeda-beda.

“Untuk ini melalui momen peringatan Nuzulul Quran ini, hendaknya kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT dan memperbaiki hubungan kita sesama manusia”, tutup Komjen Agus. (Abink)

____

Renungan

DISUNNAHKAN KHATAMAN AL-QUR’AN DI BULAN RAMADHAN

Pertanyaan

Mohon berikan penjelasan kepada saya, apakah menjadi keharusan bagi seorang muslim mengkhatamkan Al-Quranul Karim di bulan Ramadan. Jika jawabannya ya, mohon jelaskan hadits yang menguatkan pendapat tersebut.

Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama : Sang penanya layak mendapatkan apresiasi atas kesungguhannya untuk mengetahui hukum dalam sebuah masalah beserta dalilnya. Tidak diragukan lagi bahwa perkara ini dituntut. Wajib diupayakan setiap muslim, agar dia menjadi orang yang mengikuti ketentuan Al-Quran dan Sunah.

Asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam Irsyadul Fuhul, 450-451 :

“Jika telah anda pahami bahwa seorang awam hendaknya bertanya kepada orang yang pandai, maka handaknya seseorang bertanya kepada ahli ilmu yang telah dikenal agamannya dan kesempurnaan wara’nya, kepada orang yang telah mengetahui Al-Quran dan Sunah serta yang mengetahui keduanya, kepada orang yang telah mengetahui apa yang dia butuhkan dalam memahami keduanya dari ilmu-ilmu alat, sehingga dia dapat memberinya petunjuk dan arahan. Lalu ketika orang itu bertanya kepadanya apa yang dia alami dan meminta ketentuan hukum dari Al-Quran dan Sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ketika itu, orang tersebut akan mengantarkannya pada perkara yang hak dari sumbernya serta ketetapan hukum dari dasarnya. Maka, orang yang ingin komitmen terhadap agamanya, akan merasa tenang terhindar dari pendapat yang keliru dan bertentangan dengan syariat serta jauh dari kebenaran.”

Dalam Kitab Ibnu Shalah, “Adab Al-Mufti wal Mustafti, hal. 171, dikatakan :

“As-Sam’ani menyebutkan bahwa tidak dilarang untuk meminta dalil kepada seorang mufti (pemberi fatwa), untuk menumbuhkan sifat kehati-hatian terhadap dirinya sendiri. Dia wajib menunjukkan dalil, jika perkaranya sudah dapat dipastikan, namun tidak diwajibkan menyebutkannya jika perkaranya belum dipastikan dan membutuhkan ijtihad yang tidak dapat dipahami oleh kalangan awam. Wallahua’lam bishshawab.”

Kedua: Ya, disunahkan bagi seorang muslim untuk memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadan dan bersungguh-sungguh untuk dapat mengkhatamkannya. Akan tetapi, perkara itu tidak diwajibkan atasnya. Maksudnya, jika dia tidak mengkhatamkan Al-Quran, maka dirinya tidak berdosa, akan tetapi dia telah kehilangan kesempatan meraih pahala yang banyak.

Dalil dari hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, no. 4614,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه : ( أن جبريل كان يعْرضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً ، فَعرضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فيه )

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, “Sesungguhnya Jibril mengulang kembali Al-Quran kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sekali dalam setahun. Pada tahun wafatnya beliau, Dia mengulangnya dua kali.”

Ibnu Atsir berkata dalam Al-Jami Fi Gharibil Hadits, 4/64, maksudnya adalah bahwa dia mengulang kembali seluruh Al-Quran yang pernah diturunkan.

Termasuk petunjuk di kalangan salaf ridhwanullahi alaihim adalah bersungguh-sungguh untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan untuk meneladani Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Dari Ibrahim An-Nakhai dia berkata, “Al-Aswad mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan setiap dua malam sekali.” [As-Siyar, 4/51]

Qatadah biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam tujuh hari. Jika telah datang bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkannya dalam tiga hari. Jika telah masuk sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya dalam sehari.” [As-Siyar, 5/276]

Sedangkan Mujahid menghkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap malam [At-Tibyan, An-Nawawi, hal. 74. Dia berkata, “Sanadnya shahih.”]

Mujahid berkata, “Ali Al-Azdi biasanya mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan setiap malam.” [Tahzibul Kamal, 2/983]

Rabi’ bin Sulaiman berkata, “Asy-Syafii biasanya mengkhatamkan Al-Quran dalam bulan Ramadan sebanyak 60 kali.” [Siyar A’lam Nubala, 10/36]

Al-Qasim bin Hafiz bin Asakir berkata, “Dahulu bapakku selalu shalat berjamaah dan membaca Al-Quran. Beliau mengkhatamkannya setiap Jumat. Sedangkan pada bulan Ramadan, beliau mengkhatamkannya setiap hari.” [Siyar A’lam An-Nubala, 20/562]

Imam Nawawi memberi komentar tentang mengkhatamkan Al-Quran, “Pendapat yang dipilih adalah bahwa masalah ini berbeda sesuai perbedaan antara individu. Siapa yang lebih condong untuk mendalami kandungannya, pelajaran dan hikmahnya, maka hendaknya dia membatasi amalnya sesuai kemampuannya untuk memahami apa yang dia baca.

Demikian pula yang sibuk untuk menyebarkan ilmu, atau tugas lainnya dalam agama dan kemaslahatan kaum muslimin serta masyarakat umum. Hendaknya dia dapat berkonsentrasi secara proporsional dengan ukuran tidak menyebabkannya menjadi lalai pada bidang khususnya. Jika seseorang tidak memiliki tugas khusus, maka hendaklah dia memperbanyak membaca Al-Quran, asal jangan sampai keluar batas, hingga bosan atau stres.” [At-Tibyan, hal. 76]

Walaupun anjuran dan kesunahan mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan, sedemikian kuat, namun tetapi saja ruang lingkupnya adalah perbuatan sunah, bukan merupakan kewajiban yang harus, sehingga seorang muslim dianggap berdosa apabila meninggalkannya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apakah diwajibkan bagi orang yang berpuasa untuk mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadan?”

Beliau menjawab, “Mengkhatamkan Al-Quran di bulan Ramadhan bukan perkara wajib. Akan tetapi, selayaknya seseorang memperbanyak membaca Al-Quran di bulan Ramadan, sebagaimana hal terebut merupakan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Dahulu beliau mengulang kembali bacaan Al-Qurannya bersama malaikat Jibril di bulan Ramadan.” [Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 20/516]

Wallahua’lam.

Disalin dari islamqa