IMG 20220219 WA0013

Jalan Kaki 5 Jam, Ditnarkoba Polda Sumatera Utara dan Polres Madina Temukan Ladang Ganja Seluas 2 Hektar di Pegunungan Tor Mangompang

Headline Muhasabah Sumatera Utara

mascipoldotcom – Sabtu, 19 Februari 2022 (18 Rajab 1443 H)

MADINA – Tim Gabungan Narkoba Polda Sumut dan Polres Mandailing Natal menemukan ladang ganja seluas dua hektar di Pegunungan Tor Mangompang, Desa Pardomuan, Kecamatan Panyabungan Timur, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), rabu (16/2).

Penemuan ladang ganja di Pegunungan Tor Mangompang, Kabupaten Madina itu pun dibenarkan Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi, Jumat (18/2) malam.

Hadi menjelaskan, penemuan ladang ganjar berawal dari ditangkapnya seorang tersangka berninisial S dengan barang bukti satu karung ganja.

“Saat diinterogasi tersangka S mengaku barang bukti ganja berasal dari ladang milik yang berlokasi di Pegunungan Tor Mangompang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hadi menyebutkan personel Ditnarkoba Polda Sumut dan Polres Mandailing Natal yang menerima informasi melakukan pengembangan menuju Pegunungan Tor Mangompang dengan jarak tempuh 6 jam (1 jam menggunakan mobil dan 5 jam jalan kaki).

“Setibanya di TKP, personel menemukan ladang ganja siap panen seluas dua hektar dengan jumlah pohon ganja sekira 10 ribu batang,” sebut mantan Kapolres Biak Numfor, Papua, tersebut.

Setelah penemuan itu, Hadi menambahkan hari ini jumat (17/2) sekira Pukul 06.00 WIB dilakukan pemusnahan ladang ganja itu oleh Tim Gabungan Polda Sumut, TNI, BNNK dan Polres Madina

“Pemusnahan yang dilakukan sebagai bentuk komitmen bersama dalam memberantas peredaran narkoba di Sumatera Utara,” pungkasnya. (Leodepari)

__________

Renungan

Sebab-Sebab yang Menjadikan Penghuni Kubur Diadzab

Dampak Negatif dari Dosa dan Kemaksiatan

Tidak diragukan bahwa pengaruh dosa sangat berbahaya, bahkan ia adalah sebab utama adanya kesengsaraan di dalam kehidupan dunia, kesempitan di dalam kubur, dan siksa pedih di dalam kehidupan akhirat.

Dan di antara yang perlu diketahui bahwa dosa dan kemaksiatan memiliki dampak negatif, dan tidak diragukan bahwa bahaya dosa terhadap hati bagaikan bahaya racun terhadap badan, semua bertingkat-tingkat dan bermacam-macam. Dan apakah di dunia ini ada sebuah penyakit yang lebih berbahaya dari-pada penyakit yang timbul karena perbuatan dosa dan kemaksiatan?

Apakah yang telah mengeluarkan Adam dan Hawwa dari Surga, tempat kenikmatan dan ke-lezatan menuju dunia yang merupakan tempat yang penuh dengan kesedihan dan cobaan?

Dan apakah yang menjadikan iblis terlaknat keluar dari kerajaan langit? Apakah yang menjadikan dia tercampakkan sehingga berubah bentuk, zhahirnya memiliki bentuk yang paling buruk, sedangkan dalamnya adalah bentuk yang sangat busuk? Yang dekat berubah menjadi jauh, kasih sayang berubah menjadi laknat, keindahan berubah menjadi kebusukan,

Surga berubah menjadi api yang menyala-nyala, keimanan berubah menjadi kekufuran, kekasih yang paling dekat berubah menjadi musuh paling garang. Hiruk-pikuk tasbih, taqdis, dan tahlil berubah menjadi hiruk-pikuk kekufuran, kemusyrikan, kebohongan dan kemaksiatan. Pakaian keimanan digantikan dengan pakaian kekufuran dan kefasikan. Akhirnya dia menjadi makhluk yang sangat hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemarahan Allah pun menimpanya, maka jadilah dia sebagai pemimpin bagi seluruh orang yang fasiq dan penuh dosa. Dia pun ridha untuk memimpin dalam kefasikan setelah menjadi ahli ibadah dan pemimpin kebaikan. Hanya kepada-Mu ya Allah! Kami semua berlindung untuk tidak menyalahi segala perintah-Mu dan tidak melakukan segala yang dilarang oleh-Mu!

Apakah yang telah menenggelamkan semua penduduk bumi sehingga air melebihi kepala mereka bahkan melebihi gunung?

Apakah yang telah mendorong angin untuk menerbangkan kaum ‘Aad sehingga membuat mereka mati di atas bumi, seakan-akan mereka adalah batang-batang pohon kurma yang roboh. Semua rumah, kebun, dan binatang ternak mereka hancur sehingga menjadi sebuah pelajaran bagi umat setelahnya sampai hari Kiamat?

Apakah yang telah mendorong sebuah teriakan kepada kaum Tsamud sehingga hati-hati mereka terpotong-potong di dalam tenggorokan, yang pada akhirnya mereka semua mati?

Apakah yang telah menjadikan kampung kaum Nabi Luth Alaihissallam terangkat sehingga para Malaikat mendengarkan lolongan anjingnya. Lalu kampung tersebut dibalikkan, yang atas ada di bawah, mereka semua hancur, lalu mereka dilempari dengan batu-batu dari langit, bermacam siksaan menyatu kepada mereka yang belum pernah terjadi kepada umat yang lainnya dan untuk saudara-saudara mereka ada siksaan seperti itu pula, dan sesungguhnya siksaan itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zhalim?

Apakah yang telah menjadi sebab datangnya awan adzab kepada kaum Nabi Syu’aib Alaaihissallam. Ia bagaikan bayangan akan tetapi setelah sampai di kepala mereka, awan tersebut menghujani mereka dengan api yang menyala-nyala?

Apakah yang menyebabkan Fir’aun dan para pengikutnya tenggelam di tengah lautan, kemudian ruhnya dipindahkan ke Neraka Jahannam, jasadnya tenggelam sedangkan ruhnya terbakar?

Apakah yang menjadi sebab ditenggelamkannya rumah, harta, dan semua keluarga Qarun ke dalam bumi?

Apakah yang menyebabkan masa-masa setelah Nabi Nuh Alaihissallam ada di dalam berbagai macam siksaan?

Apakah yang telah menghancurkan kaum Shahib Yasin dengan sebuah teriakan sehingga pada akhirnya mereka mati?

Apakah yang telah menjadi sebab sehingga Allah mengutus orang-orang yang memiliki kekuatan kepada Bani Israil, mereka merajalela di sekitar kampung-kampung, mereka membunuh para lelaki dan menahan wanita juga anak-anak. Mereka membakar rumah dan merampas harta, kemudian Allah mengutus mereka untuk kedua kalinya untuk menghancurkan Bani Israil?

Apakah yang menjadi sebab sehingga mereka ditimpa dengan berbagai macam siksaan, dengan pembunuhan, penawanan, penghancuran negeri, dengan kejahatan para pemimpin, diubah bentuk menjadi kera, dan akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah,sebagaimana dalam firman-Nya:

لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ مَنْ يَّسُوْمُهُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِۗ

“… Bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka adzab yang seburuk-buruknya…” [Al-‘Araaf/7: 167].[1]

Inilah sebagian dampak negatif yang ditimbulkan karena perbuatan maksiat di dunia, sedangkan di dalam Barzakh, maka sesungguhnya ia adalah taman dari taman-taman Surga atau merupakan satu lubang dari lubang-lubang Neraka.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati alam Barzakh dengan ungkapannya:

مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلاَّ الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ.

“Aku sama sekali tidak pernah melihat sebuah pemandangan yang lebih mengerikan daripada kuburan.”[2]

Di sanalah rasa ngeri, kegelapan dan berbagai macam siksaan bagi orang yang telah melakukan amal buruk. Di sana pula kebahagiaan, cahaya, dan berbagai macam nikmat bagi orang yang telah melakukan amal shalih.

Kemaksiatan itu dapat membutakan mata hati, menghilangkan cahayanya, menghalangi jalan ilmu, dan menghilangkan gemerlapnya sebuah petunjuk.

Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada Imam asy-Syafi’i rahimahullah ketika mereka sedang berkumpul dan menduga adanya benih-benih tersebut, “Aku melihat bahwa Allah telah memberikan cahaya kepadamu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kegelapan maksiat.”

Senantiasa cahaya tersebut melemah dan sedikit demi sedikit akan lenyap, sedangkan kegelapan maksiat semakin kuat sehingga ia bagaikan malam yang sangat gelap. Berapa banyak orang yang jatuh dan tidak dapat melihat, ia bagaikan orang buta yang keluar pada malam yang sangat gelap penuh dengan mara bahaya. Keselamatan yang sangat berharga!! Akan tetapi kebinasaan lebih cepat datang!!

Kegelapan semakin kuat, sedangkan ia terus saja merayap dari hati menuju anggota badan yang lainnya, sehingga muka-muka semakin gelap sesuai dengan daya kemaksiatan yang telah menimpanya. Lalu ketika kematian datang kepadanya, maka kemaksiatan tersebut akan tampak di alam Barzakh, sehingga kuburannya penuh dengan kegelapan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ هَذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةً عَلَى أَهْلِهَا وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّى يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ.

“Sesungguhnya kuburan-kuburan ini penuh dengan kegelapan yang menimpa penghuninya dan sesungguhnya Allah Azza wa Jalla meneranginya dengan do’aku kepada mereka.”[3]

Pada hari Kiamat nanti dimana seluruh hamba dikumpulkan, muka-muka itu akan tampak kelihatan dan setiap orang melihatnya sedangkan ia akan menjadi sangat hitam bagaikan arang. Aduhai!! Amat pedihnya siksaan ini yang sama sekali tidak dapat ditimbang dengan seluruh kenikmatan yang di dapatkan di dunia dari awal sampai akhir, padahal kesulitan hidup juga kepedihan yang dirasakan olehnya di dunia hanyalah khayalan sesaat! Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.[4]

Pokok-pokok Dosa dan Pembagiannya:

Sebagaimana dosa bermacam-macam dalam kerusakan dan tingkatan-tingkatannya, maka siksaan yang diakibatkannya di dunia dan alam Barzakh pun bermacam-macam.

Di dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan -dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala- sebuah fasal yang sangat singkat dan mencakup pokok-pokok dosa dan macam-macamnya.

Pokok sebuah dosa.

Pokok sebuah dosa ada dua macam: meninggalkan perintah dan melakukan perbuatan yang dilarang.

Keduanya merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kedua orang tua jin dan manusia (iblis dan Adam).[5]

Meninggalkan sebuah perintah lebih besar di sisi Allah daripada melakukan perbuatan

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang Adam untuk tidak memakan buah dari sebuah pohon, tetapi dia memakannya, lalu dia bertaubat kepada Allah. Sedangkan iblis diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, akan tetapi dia membangkang perintah tersebut dan tidak bertaubat.[6]

Awal berbagai kesalahan ada tiga:

Inilah yang telah menjadikan iblis kepada keadaannya (dilaknat oleh Allah).

Inilah yang menjadikan Adam keluar dari Surga.

Inilah yang menjadikan salah satu dari anak Adam membunuh yang lainnya.

Sehingga siapa saja yang terjaga dirinya dari tiga hal ini, maka dirinya telah terjaga dari segala bentuk kejelekan.

Kekafiran timbulnya karena kesombongan, kemaksiatan timbul karena kerakusan, dan perbuatan zhalim timbul karena iri hati.[7]

Pembagian dosa.

Dosa itu terbagi kepada empat bagian:[8] Mulkiyyah, Syaithaniyyah, Sabu’iyyah, dan Bahimiyyah.

Mulkiyyah

Adalah sebuah sikap di mana seorang hamba melakukan segala hal yang sebenarnya merupakan hak rububiyyah Allah, seperti sombong, merasa besar, memaksa, merasa tinggi, menjadikan orang lain sebagai hamba-Nya, dan yang lainnya.

Masuk ke dalam kategori dosa macam ini adalah syirik kepada Allah. Ia terbagi kepada dua bagian:

Syirik di dalam sifat dan Nama-Nama-Nya.

Syirik di dalam bermuamalah kepada-Nya.

Bagian kedua ini terkadang tidak mewajibkan (mengharuskan) seseorang masuk ke dalam Neraka, walaupun amal yang ia lakukan pada waktu itu hancur.

Dosa dengan kategori seperti ini merupakan dosa yang paling berat, masuk ke dalamnya adalah mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa ilmu dalam penciptaan dan urusan-Nya.

Sehingga siapa saja yang melakukan dosa seperti ini, maka sesungguhnya ia telah mencabut makna Rububiyyah dan Mulkiyyah dari Allah. Dia telah menjadikan sekutu bagi-Nya. Inilah dosa yang paling berat sehingga sebuah amal sama sekali menjadi tidak berarti.

Syaithaniyyah

Adalah dosa-dosa yang menyerupai perbuatan syaitan, seperti hasad (iri), zhalim, berbuat curang, menipu, berbuat makar, mendorong orang lain untuk melakukan kemaksiatan, melarang orang lain melakukan ketaatan, berbuat bid’ah di dalam agama dan mengajak orang lain untuk melakukannya.

Sabu’iyyah

Adapun Sabu’iyyah, maka sesungguhnya dosa ini adalah dosa yang terwujud di dalam perbuatan, seperti permusuhan, kemarahan, pembunuhan, dan merampas hak milik orang-orang lemah.

Dari dosa-dosa seperti ini timbullah segala macam dosa yang mengakibatkan perbuatan zhalim dan permusuhan.

Bahimiyyah

Dosa seperti ini contohnya adalah rakus di dalam memenuhi kebutuhan perut dan kemaluan.

Dari dosa macam ini timbullah perbuatan zina, mencuri, memakan harta anak yatim, pelit, penakut, tamak, dan yang lainnya.

Ini adalah dosa yang banyak dilakukan oleh banyak manusia, karena lemahnya mereka untuk melakukan dosa-dosa Sabu’iyyah dan Mulkiyyah dan darinya mereka masuk kepada bagian yang lainnya. Dosa macam ini menarik mereka kepada macam yang lainnya secara terkendali. Akhirnya mereka masuk ke dalam dosa dalam kategori Sabu’iyyah, lalu Syaithaniyyah, dan akhirnya masuk ke dalam dosa yang mencabut makna Rububiyyah dari Allah dan syirik dalam keesaan-Nya.

Siapa saja yang merenungkan semua ini, maka dia akan mendapati bahwa dosa merupakan lorong menuju sebuah kemusyrikan dan kekufuran. Juga merupakan awal yang akan berujung kepada sikap mencabut makna Rububiyyah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Balasan Disesuaikan dengan Amal Perbuatan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا يُّجْزَ بِه

“… Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu…” [An-Nisaa’/4: 123].

Maknanya adalah siapa saja yang melakukan sebuah kejelekan, besar ataupun kecil, dilakukan oleh seorang mukmin atau kafir, maka perbuatan tersebut akan dibalas.[9] Al-‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sebuah balasan akan disesuaikan dengan amal yang dilakukan.

Jika seseorang sering memberikan ampunan kepada orang lain, maka dia akan mendapatkan ampunan dari Allah. Siapa saja yang memaafkan kesalahan orang lain kepadanya, maka Allah pun akan memaafkan kesalahan yang ia lakukan kepada Allah. Siapa saja yang menuntut balas atas kesalahan orang lain, maka Allah pun akan menuntut balas kepadanya.

Janganlah kamu melupakan keadaan seseorang yang dicabut nyawanya oleh Malaikat, lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apakah anda pernah melakukan sebuah perbuatan baik?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mengetahuinya,’ lalu dikatakan kepadanya, ‘Ingatlah!’ Dia pun berkata, ‘Dahulu saya pernah menjual sesuatu kepada banyak orang, aku berikan tempo kepada orang yang mampu sedangkan orang yang tidak mampu aku lepaskan hutang tersebut.’

Di dalam riwayat yang lain, ‘Aku menyuruh pembantuku untuk berkeliling ke perumahan.’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku lebih berhak melakukan perbuatan tersebut daripadanya,’ dan Allah pun memaafkan kesalahannya. Sesungguhnya Allah menyikapi hambanya sesuai dengan sikap hamba tersebut kepada yang lainnya.”[10]

Begitu pula keadaan di dalam kubur, sesungguh-nya balasan yang akan didapatkan oleh seorang mayit disesuaikan dengan amal yang ia lakukan di dunia.

Marilah kita dengarkan ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitabnya, Tuhfatul Mauduud bi Ahkaamil Mauluud yang mengisyaratkan kepada makna yang saya ungkapkan di atas, beliau berkata, “… kemudian seorang mukmin diberikan kenikmatan di dalam alam Barzakh sesuai dengan amal yang ia lakukan. Begitupula seorang fajir (pelaku kemaksiatan) disiksa di dalam kubur sesuai dengan kemaksiatan yang ia lakukan, seluruh anggota badan akan dibalas sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan.

Lalu orang yang selalu menggunjing dengan memotong-motong kehormatan orang lain, lidahnya akan dipotong dengan gunting dari api

Perut orang yang selalu makan riba akan dipenuhi dengan batu-batu dari api Neraka. Mereka juga akan berenang di dalam sungai-sungai darah sebagaimana mereka berenang di dalam ladang yang busuk di dunia.

Kepala orang-orang yang selalu tidur tidak melaksanakan shalat wajib akan ditumbuk dengan batu yang sangat besar.

Mulut seorang pembohong dengan kebohongan yang besar akan dibelah dengan pengorek bara api dari besi sampai belakang kepalanya, hidungnya sampai belakang, kedua matanya sampai belakang sebagaimana ia memotong kalimat yang diungkapkannya menjadi sebuah kebohongan.

Wanita yang selalu melakukan zina akan digantungkan dengan kedua payudaranya.

Para pelaku zina akan ditahan di atas sebuah tungku yang menyala, lalu tempat melakukan kemaksiatannya (kemaluannya) disiksa. Tungku itu ada di dalam tempat yang sangat bawah.

Kebingungan, kesedihan, dan kepedihan akan ditimpakan kepada jiwa-jiwa yang hanya bermain-main saja, maka kepedihan tersebut akan menggerogoti mereka bagaikan singa dan serangga yang menggerogoti daging tubuh mereka. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri alam dan dunia..”[11]

Sebab-Sebab Secara Umum yang Menimbulkan Siksa Kubur.
Semua sebab ini sebenarnya berakar kepada dua sebab utama, yaitu:

Syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bodoh akan masalah tersebut dan tidak mewujudkan tauhid.

Melalaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melakukan kemaksiatan kepada-Nya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya mereka disiksa karena kebodohan mereka dan karena kelalaian mereka akan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala serta perbuatan maksiat mereka. Allah tidak akan pernah menyiksa jiwa yang mengenal-Nya, mencintai-Nya, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Allah juga tidak akan pernah menyiksa badan yang ada di dalam keadaan demikian.

Karena sesungguhnya adzab kubur dan adzab akhirat adalah pengaruh dari kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya, maka siapa saja yang menjadikan Allah murka dan membencinya di alam dunia ini, kemudian dia tidak bertaubat dan meninggal di atas hal tersebut, maka dia akan mendapatkan siksaan di alam Barzakh sesuai dengan kebencian Allah kepadanya, di antara mereka ada yang lalai dan ada yang rajin dan di antara mereka ada yang membenarkan dan ada yang mengingkari.”[12]

Sebab-Sebab Adzab Kubur Secara Terperinci.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan kemaksiatan yang menjadikan pelakunya disiksa di dalam kubur, dan dari hal-hal yang telah lalu, maka sudah sepatutnya mengetahui beberapa hal sebagai berikut:

Siksa orang yang berbuat maksiat di dalam kubur bermacam-macam sesuai dengan kemaksiatan yang ia lakukan.

Sesungguhnya siksa kubur terjadi karena kemaksiatan hati, mata, telinga, mulut, lisan, perut, kemaluan, tangan, dan badan seluruhnya.
Sesungguhnya syirik kepada Allah merupakan dosa yang paling besar, karena itu orang yang melakukan syirik sangat berhak untuk mendapatkan bagian dari siksa kubur, kenapa tidak?! Padahal dia telah menjadikan tuhan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala!

Karena itu syirik adalah sebab utama yang menjadikan seseorang ada di dalam kesempitan dan mendapatkan segala macam siksaan yang pedih di dalam kubur.

Kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengumpulkan sebab-sebab tersebut sebagai sebuah peringatan kepada jiwa kami sendiri dan seluruh saudara kami sesama muslim, dengan bersandar kepada ayat-ayat yang mulia juga kepada hadits-hadits yang shahih beserta beberapa catatan penting dari perkataan para ulama yang terpercaya.

Maka renungkanlah sebab-sebab yang membinasakan tersebut, wahai saudaraku!! Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua dan janganlah kalian melalaikannya, sehingga melupakannya dan akhirnya adalah adzab yang sangat pedih menimpa!!

Maka sekarang telah tiba saatnya untuk saya ungkapkan secara terperinci satu-persatu:

[Disalin dari Al-Qabru ‘Adzaabul Qabri…wa Na’iimul Qabri Penulis Asraf bin ‘Abdil Maqsud bin ‘Abdirrahim  Judul dalam Bahasa Indonesia KUBUR YANG MENANTI Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur Penerjemah Beni Sarbeni Penerbit  PUSTAKA IBNU KATSIR]
______
Footnote
[1] Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 60-61.
[2] Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2308), beliau berkata, “Hadits hasan gharib.” Ibnu Majah (no. 4267) dan yang lainnya dari hadits ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam kitab al-Misykaah (no. 132) dan al-Arnauth di dalam Jaami’ul Ushul (XI/165).
[3] HR. Muslim, kitab al-Janaa-iz, bab ash-Shalaah ‘alal Qabri (no. 956 (71)).
[4] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 107 dengan sedikit perubahan redaksi.
[5] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 168.
[6] Al-Fawaa-id, hal. 117-126. Silahkan lihat dalil-dalil akan ungkapan tersebut di dalamnya.
[7] Al-Fawaa-id, hal. 56.
[8] Ad-Daa’ wad Dawaa, hal. 169-170.
[9] Makna tersebut sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah dan Ubay bin Ka’ab, Inilah makna yang dipilih oleh Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya (V/293).
[10] Miftaah Daaris Sa’aadah (I/291-292). Kaidah ini banyak di-ungkap di dalam kitab-kitab beliau rahimahullah.
[11] Tuhfatul Mauduud, hal. 15. Perkataan ini ditetapkan pula oleh al-Hafizh Abu Bakar ibnul ‘Arabi sebagaimana yang dinukil oleh al-Hafizh di dalam kitab Fat-hul Baari dan akan diungkap-kan di halaman berikutnya.
[12] Ar-Ruuh, hal. 103.